Cita-Citaku Jadi Gubernur Catatan

Cita-Citaku Jadi Gubernur

“Pa, Alif nggak pilih Ahok. Alif pilih Agus saja. Teman-teman di kelas pada pilih Agus, Pa!”

 

Begitulah cerita istriku dalam obrolan kami di suatu malam, menjelang tidur. Entah bagaimana hal ihwalnya, aku dan istriku juga tidak mengerti persisnya. Yang pasti, setelah itu Alif menyatakan, dia bercita-cita jadi seorang gubernur.

 

Anehnya kenapa gubernur yang dipilihnya. "Kenapa bukan yang lain, Nak? Kenapa bukan menjadi pemain bola seperti kegemaran keluarga kita yang sudah turun-temurun?"

 

Kami menyadari ini dalam suatu acara promosi satu produk susu di salah satu mal di Jakarta, di mana saya, Alif dan Dara (adiknya) maju ke panggung sebagai voluntir dengan harapan mendapatkan hadiah. Dalam kesempatan itu, MC acara bertanya kepada Alif, “Adik, cita-citanya mau jadi apa?”

 

“Aku pengen jadi gubernur seperti Pak Ahok!” jawabnya tegas.

 

Spontan aku dan sang MC kaget bukan main. Tak terbayang olehku Alif akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban tersebut. Sebab, meski aku seorang pekerja partai, tak pernah aku, apalagi istriku, mengarahkan anak-anak untuk mengikuti jejak-langkah yang kujalani. 

 

Padahal aku dan Alif paling bersemangat kala rutinitas latihan futsal di setiap hari Sabtu, tiba. Di hari itu bahkan Alif tak perlu dibangunkan, sebagaimana hari-hari yang lain. Di hari itu secara otomatis dia akan bangun pagi bahkan subuh hari. Padahal biasanya, di hari sekolah, aku atau mamanya harus membujuk dia untuk beranjak meninggalkan kasurnya. Berbagai cara dan jenis bujuk rayu harus kami kerahkan untuk sekadar dia mau membuka matanya.

 

Dalam keseharian, aku malah lebih banyak bercerita bagaimana proses CR7 (Cristiano Ronaldo) menjadi seorang pesepakbola yang hebat. Kami nonton film Ronaldo bersama-sama dan mendiskusikan setiap momen-momen penting dalam hidupnya. Pernah juga aku bercerita padanya tentang La Masia, sekolah sepakbola milik Barcelona di Katalunya, yang telah melahirkan Lionel Messi, Xavi Hernandez, dan Andreas Iniesta. Bahkan aku berjanji pada Alif, jika dia khatam Al Quran nanti, akan kuajak dia pergi ke Inggris untuk menonton EPL, kompetisi sepakbola favorit kami.

 

Tapi Alif, anak sulung kami, justru bercita-cita jadi gubernur. Di satu kesempatan dia mengatakan, cita-citanya karena terinspirasi Ahok yang berani membenahi pelayanan publik dan menata pemerintahan di Jakarta dengan luar biasa.

 

Seingatku, Alif baru sekali berkenalan langsung dengan seorang gubernur. Waktu itu aku memperkenalkan Alif pada Zumi Zola, Gubernur Jambi, dalam acara resepsi pernikahan seorang sahabat. Dalam barisan undangan yang akan bersalaman dengan mempelai, secara tidak sengaja, ada Zumi di antaranya. Lalu kami saling bersalaman dan aku memperkenalkannya pada Alif.

 

“Lif, ini Pak Gubernur, sahabat Papa!” Ucapku.

 

Alif langsung terkesima dan berucap, “Ini gubernur Pa? Keren! Masih muda, Pa!”

 

Pernah pula dalam kesempatan lain, pada akhir pekan di sebuah bioskop, kami berpapasan dengan salah seorang direktur utama lembaga riset yang menjadi rekanan dalam pilkada, yang kebetulan juga sama-sama membawa keluarga. Sang direktur lembaga riset itu bertanya, "Cita-citanya mau jadi apa?”

 

Spontan Alif menjawab, "Mau jadi gubernur!

 

“Sudah benar itu. Papamu kan kerjaannya mencetak kepala daerah se-Indonesia,” sela sahabatku itu.

 

Alif, puteraku. Kau baru saja merayakan ulang tahunmu yang kesembilan, bulan Oktober kemarin. Kau masih jauh untuk memiliki hak pilih. Kesempatanmu untuk berubah pilihan idola juga masih luas, dari Ahok ke yang lainnya. Yang pasti, aku masih garuk-garuk kepala untuk menyimak statemenmu yang dipengaruhi oleh teman-temanmu di sekolah.

 

Nak, kita memang terlahir sebagai zoon politicon, mahluk istimewa ciptaan Tuhan, yang memiliki satu-satunya otoritas untuk memuliakan peradaban melalui jalur politik.

 

Lif, seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari batangnya. Papa ingat persis bagaimana di seusiamu, bahkan lebih muda dari usiamu sekarang, Papa tak pernah absen menyimak Dunia dalam Berita tentang perang Malvinas. Papamu ini bahkan akan marah bila ketiduran dan tidak dibangunkan oleh Opung, hanya untuk menyimak perkembangan berita perang itu.

 

Anakku, seorang pemikir besar Carl von Clauzewit berpandangan bahwa perang adalah kelanjutan dari pertikaian politik. Mungkin hari ini kau tidak melihat perang konvensional sebagai ekspresi penaklukan suatu kawasan, apalagi penjajahan suatu bangsa atas bangsa lainnya. Tapi perang yang kau saksikan saat ini adalah perang bernama "pemilu" yang menjadi ruang peralihan atau pertahanan kekuasaan. Perang dalam pemilu ini memang tidak membunuh manusia apalagi pembantaian massal seperti genosida. Tetapi perang dalam pemilu ini lebih banal, bahkan brutal, karena ia seringkali meluluhlantakkan peradaban manusia yang justru menjadi tujuan manusia berpolitik.

 

Jika bom atom Hirosima dan Nagasaki bisa menghancurkan Jepang secara fisik dan membuat Perang Dunia II berhenti, di pemilu, bom propaganda hitam dan kampanye fitnah seperti yang marak belakangan ini, telah berdampak secara psikologis dan budaya, anakku. Yang ia hancurkan adalah kepercayaan dan solidaritas kita sebagai sesama warga kota bahkan bangsa. Dalil agama mereka gunakan sebagai pembenar atas pilihan sesaat tanpa menimbang kapasitas dan rekam jejak sang kandidat.

 

Anakku, dalam hidup ini banyak orang baik. Tapi baik saja tidak cukup untuk menjadi seorang pemimpin. Banyak orang pintar, tapi pintar saja tidak cukup untuk menjadi seorang gubernur. Kita butuh orang baik yang pintar sekaligus berani dan juga memiliki integritas untuk menjadi pemimpin, agar salah satu syarat terwujudnya keadaban publik terpenuhi.

 

Inilah kado untuk ulang tahunmu, anakku. Untuk kau baca ulang, bagaimana duduk perkara pilihan gubernur teman-temanmu di kelas.

 

Adapun soal cita-cita yang akan kau pilih anakku, semua membutuhkan perjuangan yang keras dan luar biasa. Karena menjadi orang baik, orang pintar, dan pemberani yang membela kebenaran, akan menghadapi tantangan yang besar. Dan biasanya, orang besar akan lahir dari dialektika yang abnormal semacam itu.

 

Selamat ulang tahun Alif Camilo Adiwijaya!

 

 

30 Oktober 2016

 

bengkulu RASIS Toleransi PILKADA Surya Paloh Willy Aditya NasDem Kepri Surya Paloh Politik Gagasan Yemmi Livenda Dara Wita Anastasia 35 31 Dukung Kenaikan BBM KIH Nasdem Joko Widodo KIH Susilawati Kepri Kepri Damai Selat Malaka Damai Aceh War of Position on Asia Pacific Region I Kecurangan Pilpres Siskamling Tugas TNI Melawan Bencana Filsafat Barat Filsafat Timur Virtue Kebajikan Militer dan masyarakat Sipil Satpol PP Kewarganegaraan Moral Dimensi Moral Partikelir Keamanan Kontraktor Kinerja Citra Pelayanan Polisi Perang Amerika Serikat Jendral Soedirman Restorasi Virtue Militer Ideologi Ideologi KKP Perdamaian Wajib Militer demokrasi Hak Warga negara Wajib Militer human security Konvensi Politik Modern Mitos Semangat Pencerahan Restorasi Kepartaian U-19 Timnas INS Minang Kabau Filsafat kerja Minang Kabau Dialektika Rantau Solidaritas Visual Ironi Takdir Indonesia Negara Maritim Indonesia Semangat Pemuda Pemuda Republikanisme Uniform Civilian SBY POLRI TNI Defence Study Pertahanan Keamanan Defence Study Pertahanan Keamanan Tanda Tiga Lima 35 Joko Widodo Jokowi indonesia restorasi restorasi indonesia Indonesia di jalan restorasi Martir Demokrasi Kenaikan Gaji Mentri Nasdem Willy Aditya Gubernur Sumatera Barat Gubernur Sumatera Barat Catatan Adiwijaya Camilo Alif Alif Camilo Adiwijaya Parlemen Politik DPR

    0 Komentar Pada Artikel Ini

 

Tinggalkan Komentar