Tentang Willy

Sajak 1996

Kukunci Sendiri di Pucuk Mahoni

Di pucuk mahoni kurangkul februari
kunanti tetes embun di bibir daun
rintik rinai gemulai
cucur hujan berkalimun awan

Hai embun, rinai, hujan
jangan gantung batas pandang
melantailah landai ke ladang adam

Namun aku sangsai
daun terjun ditampar langkisau
dirajam ranting tajam
diurai-urai malam menggaram
kering memuai asam

Pipit-pipit bersiul
di tunggku April
melayang di punggung merdeka
asap terbang bersayap jelaga

Nafas Juli berevolusi
aku tetap dikunci sendiri
pipit senang melayang
terbang tak arah sarang

Rinai-rinai Oktober bersemai
aku selalu hijau di pucuk mahoni
perisai dibingkai teratai
namun pipit-pipit menjerit
melayang bulu tak kembang
harap patah tak pulang
kini bibit-bibit malang
sendiri di pucuk mahoni terkenang

Kayutanam, Maret 1996

Elegi Pelepah Pisang

Kau terus melangkah
dalam radian musim
tak hirau jejak lah terdepak

Sendiri aku
berkaki sepi meniti setapak pasti

Hujan pun menjagung alam agung
kau tetap tegap kuyub bersama rotasi

Tarian kodok memanggil himbau
berkubang pekat kolam tirani
kau masih tuli

Guruh mendedah mahoni melintang setapakku
langkisau menggigau kacau menambar rabu
kusepak tanya, patah ragu

Kau masih basah di ujung transisi
kutebas pelepah pisang di tangan kanan
mungkin tak payung dalan vantasi
mari, berlari bersama mimpi
berevolusi dalam pasti

Kayutanam, Maret 1996

Pena dan Kata

Ini malam pena berdetak
kata berucap sajak

Embun melantai terurai
daun-daun mahoni berdesir
ilalang garang menggigil
angin resah tak arah

Langit dalam sejuta hiperbola
bulan meniti sunyi
kelelawar sunyi
kelelawar hitam
mengibas sayap kelam
di payung cahaya kiba-kiba
bayang-bayang bersembunyi
etalase kaba

Kereta malam lengang
dalam perjalanan pulang
gerbong-gerbong kosong
lumut-lumut berkarosi
rel-rel dingin tua
namun
tak ampang angkat tangan
di mana stasiun menunggu kereta malam

Kayutanam, Maret 1996