Tentang Willy

Sajak 1997

Menunggu

lemas, embun jatuh berdarah
sudah sewindu tanah jadi debu
gunung merapi masih berzikir
angin barat saling berpendaran angin timur
aku terkapar
di lampu jalan
di taman kota
di pohon pohon tua
gamang, cakap sendiri
mimpi telah membantai perempuan sebagai hidangan
pencarian telah jadi garam atau mutiara
entahlah

hoi, perempuan tunggu
pluit belum memecah bunyi
karena kereta masih jauh ke stasiun
akankah aku bertunang malam
atau bersenggama angan dan angin

tulislah : TUTUP !
Kaliurang 1997