Tentang Willy

Sajak 2006

Malam

Seperti kotak Pandora yang meletup
Tak tahu apa yang akan aku jumpai
Acap kali tiba-tiba menyergapku
Tanpa salam
Tanpa ketukan
Tanpa senyuman
Untuk menghabiskan pulsa handphone,
memencet-mencet nomor yang bahkan asing bagi ku,
lalu memulai percapakan yang tak perlu
untuk sekedar bertegur-sapa menggangu tidur orang
Lalu meninggalkan tanpa pamit
Begitu cepat aku tergagap, bahkan luput untuk akrab

Malam, Kalau putaran waktu siang terus
Mungkin tak ada batas pembeda hitam-putih
Ruangpun menjerit-jerit minta ampun
Bersama cucuran peluh kuli bangunan
dan telapak kaki telanjang si mbok bakul sayur
Walau kau tak pernah bisa meninabobokan mereka dalam dinginnya kamarmu

Malam, Kenapa aku begitu takut
bila badan gelapmu menyekap ujung aortaku
Membuat aku sibuk membakar-bakar sisa nafas dan tenaga
Menggerakkan ujung-ujung persendian
untuk memompakan darah ke jantung
Menangkap cahaya kunang-kunang dan sibuk mencari bayangan

Jangan tanya bayang siapa yang kutangkap
sebab mukamupun tak pernah kusua
Dalam dekapmu orang saing kalap
Berada dekatmu membuat aku silap

Malam, begitu ponggahnya lagakmu
Hingga tak pernah mengerlingkan mata atau sekedar memberikan isyarat lewat ujung mata
Hanya kalong-kalong yang mengepakan sayapnya
Dan bunyi jangkrik menunggu aku dalam heningmu!
Setiabudi, 05 juli 2006

Sajak Nekat

Getah bening dalam urat-urat tubuh tiba-tiba membeku
Bergelas-gelas kopi panas dan batangan rokok
Tak juga membuat bergairah untuk membantah keadaan

Perempuan, dalam langkah dan lampu jalan yang hidup-mati terkadang
Aku mendendang-nendang kaleng dan sampah yang bertebaran
Di atas udara makin tipis dan orang-orang berlindung dalam lapisan selimut
Aku berkabut dan berpucat diri untuk mengutuk kesendirian

”aku sudah mengaum seperti harimau yang tak makan sebulan
melolong seperti anjing pertanda ada setan-setan yang berkeliaran di sekitar
mengendus-ngendus bau amis, itu!”

Perempuan,
berulang kali lidahku tak bisa kuasah
seperti orang-orang bugis menundukan samudra dengan ujung badiknya
seperti orang aceh mengundang kaisar Ming dari Tiongok untuk mengusur Majapahit dari semenanjung malaka.
Seperti para pujangga membacakan sajak dan merangkai kata-kata
Harapku tak sekuat buat
Hanya nekat yang bulat!
Setiabudi, 03 juli 2006