Tentang Willy

Sajak 2007

Bintang Kuning Garis Hitam

Suara derap langkah dalam barisan massa
Keringat meneteskan semangat mudamu
Pekik rakyat bergaung dari anak lidahmu
Acungan lengan kiri meninju terik matahari

Malam ini bing slamet mendendang genjer-genjer
Kulihat sejarah penuh jejeran merah
Mendekap erat tubuh tambunmu
Menjabat erat setiap tindakmu
Membalut kencang alam pikirmu

Dalam garis hitam dan cita bintang kuning
Darahmu mendenyutkan kemudaan mereka yang resah
”tunaikan tugas mulia”

Mari belajar membaca masyarakat
Bukan dari dogeng yang menidabobokan penderitaan dalam salam dan damai
Bukan dari kemajuan yang disangga jutaan tulang benulang

Suaramu
Mengingatkan pada gelegar petir
Dialekmu
Menjelajah pada setiap jengkal pematang sawah dan dentuman mesin pabrik
Tubuhmu
Meenjadi malam kelam bagi kuasa yang korup

Kemana langkah yang berderap derap itu
Apakah hanyut bersama alir sungai ke muara
Atau bermigrasi bersama burung-burung ke pulau karang

Satu kata untukmu semua
Tak ada rindu dalam patahan usia
Tak ada halaman dalam panggung dunia

Sampaikan salam untuk semua
Jemput bersama singgasana
Hanya dan hanya kuasamu
Bungur, akhir agustus 2007

Juli di bumi parahyangan

Tak ada yang berulang dalam sejarah
Mungkin juga tafsir yang selalu dibaca kurang

Ombak saling kejar-mengejar ke bibir pantai
Sebagian pecah di tengah di sapu arus balik
Begitu pula setiap hendak ingin bersorak
Kenapa kanan belum kunjung menyambut hayunan kiri untuk bertepuk tangan

Juli, dalam hitungan digit awal abad millenium
Dalam pergeseran kerak bumi yang memutar-balikkan raga
Rasaku disergap tsunami hingga luluh lantak rumah gubuk yang kugambar

Juli, ditengah memanasnya bumi dan mencairnya gunung-gunung es di kutub
di sini, di bumi parahyangan aku dibanjiri kenakalan akhil baliq
di antara ketidakpastian musim,
entah sampai kapan panas akan membuat sawah petani kering kerontang
entah kapan hujan akan turun, pertanda musim tanam datang
aku mencoba menyiangi ladang yang sudah penuh ilalang
bertanam umbi untuk bisa dimakan

juli, dimana sakralmu berada
sebagai pertanda nelayan berhenti melaut, petani mulai membajak
dan rasa yang mulai tumbuh bersama pucuk-pucuk jati

juli, datanglah padaku
dinama adrenalin akan pacu berpacu ke aorta menyebut namamu dalam igauan malam
bersiul siul di pematang sawah sambil menghitung berapa warna rama rama itu

dan alam akan menetaskan sejarah baru
dimana aku lahir kembali sebagai pencinta
parahiyangan, 19 Juli 2007